Mengapa Kita Ragu untuk Berlatih?

Beberapa orang yang kutemui akhir-akhir ini membuatku semakin mengerti akan betapa pentingnya untuk terus meniti karir spiritual walaupun hidup sebagai perumah tangga. Kehidupan akan jauh lebih mudah untuk dijalani jika kita sudah mengetahui bahwa pada hakikatnya di dalam kehidupan, semua itu berproses. Tapi, seringkali ada anggapan bahwa maksud kata berproses disini hanya perubahan dari hal baik menjadi hal buruk atau justru sebaliknya, perubahan dari hal buruk menjadi hal baik. Sesungguhnya tidaklah sesederhana itu, yang dimaksud berproses juga bisa memberikan peluang untuk hal baik menjadi lebih baik lagi dan hal buruk menjadi lebih buruk.

Hand drawn people asking questions illustration Free Vector

Aku selalu saja tertarik untuk mendapatkan jawaban dari sebagian orang berkaitan dengan “Mengapa ada yang tidak serius untuk berlatih meskipun sebagai perumah tangga?” Semakin aku mencoba mendapatkan jawabannya, semakin aku mengerti bahwa kita semua memiliki pengalaman, situasi, kondisi dan latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, cara dalam menjalaninya kehidupannya pun begitu beragam.

Beberapa dari kita menjalankan kehidupan hanya berdasarkan rasa suka dan tidak suka. Jika suka, kita tidak ingin melepasnya. Sedangkan, apabila kita tidak suka, selalu saja rasanya ingin segera lepas darinya. Namun, pernahkah terpikir bahwa dengan mudahnya kita terperdaya dengan perasaan kita. Tidak sedikit masalah yang timbul hanya karena masing-masing orang berusaha mempertahankan apa yang mereka suka dan mencoba menghancurkan apa yang mereka tidak suka.

Segelintir orang yang kutemui sebetulnya ingin berlatih, tetapi biasanya mereka memiliki banyak sekali keraguan dalam berlatih. Bahkan, mereka seringkali bertanya pada dirinya sendiri “Apakah yang aku lakukan sudah benar?” Celakanya, dari satu keraguan, jika tidak segera mendapatkan jawabannya, akan menuju ke keraguan selanjutnya. Lebih tepatnya seperti bola salju yang semakin lama menggelinding akan semakin besar pula. Seperti itulah, keraguan jika tidak segera diatasi. Hingga akhirnya, mereka pun terjebak dalam permainan teoritis dan melupakan praktik.

Sebenarnya, obat untuk mengikis keraguan adalah “pengetahuan”. Cobalah untuk selalu “mengosongkan cawan” ketika dipertemukan dengan hal baru. Karena, jika cawan kita penuh, tidak ada hal yang bisa dimasukkan lagi ke dalamnya. Bagaimanapun, apa yang kita tidak ketahui, belum tentu itu tidak ada, hanya saja kita belum mengerti saat itu. Belajarlah menerima terlebih dahulu apapun itu, setelahnya baru berusaha.

Hal penting yang harus dimengerti adalah kita hanya berusaha mengondisikan supaya baik. Perihal hasilnya nanti seperti apa, itu diluar kendali kita. Tapi, perlu diingat jika kondisi baik dapat mendukung kemunculan hal yang baik juga. Selain itu, sebisa mungkin, jadilah makhluk yang tidak berbahaya bagi makhluk lainnya. Kita harus tanamkan dalam diri bahwa “Selayaknya kita yang ingin bahagia, begitu juga dengan makhluk yang lainnya”.

Jangan lupakan praktik kita sendiri, sesibuk apapun diri kita. Sisihkan waktu lebih untuk mendalami Dhamma dan meditasi. Luangkan waktu bagi diri sendiri untuk menyelami ajaran, mempraktikkan-nya dengan semakin tekun dan penuh tekad. Yang dapat mengurangi penderitaan adalah Dhamma yang dipraktikkan bagi diri sendiri untuk mengikis berbagai pandangan keliru dan keakuan. Oleh karena itu, tekunlah dalam sila, samadhi, dan panna. Hanya dengan cara ini, kita bisa mengatasi penderitaan.

Selanjutnya, jangan lupakan kondisi pendukung yang telah membuatmu berjodoh dengan kebaikan, meskipun kondisi tersebut telah berubah dan tak seindah dulu. Hal ini akan menentukan jodohmu dengan kondisi baik lainnya dalam hidup ini.

“Jangan biarkan diri kita ditarik oleh gravitasi kotoran batin. Berusahalah untuk menaikkannya lagi”

Irvyn Wongso

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya. Semoga semua hidup berbahagia

Sumber Tulisan :
*Kompilasi dari beberapa IG Stories Ko Irvyn Wongso (@irvynwongso)

Sebagian Kecil dari Parābhava Sutta (Diskursus tentang Keruntuhan)

Kita saat ini masih berputar-putar di dalam samsara. Perjalanan ini bisa saja tanpa akhir. Sejauh ini, Kita sudah menempuh perjalanan yang sangat panjang di samsara ini. Saat ini seorang lahir sebagai manusia. Akan tetapi, selama dia masih puthujjana maka tidak tertutup kemungkinan dia akan lahir di alam-alam yang rendah.

Ketika lahir sebagai manusia mendapatkan kesempatan untuk mempelajari hal-hal yang baik, tetapi ketika lahir sebagai makhluk di alam yang penuh penderitaan, dia akan kesulitan mendapatkan kesempatan untuk mempelajari hal seperti itu. Oleh karena itu, mumpung kita sekarang sudah lahir menjadi manusia maka kita harus belajar tentang mana yang baik dan mana yang tidak baik; tentang mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Bayangkan ketika kita mengemudikan mobil. Apabila kita tidak mengetahui rambu-rambu yang berlaku di jalan raya, maka kita akan membawa mobil itu dengan serampangan. Hal ini tidak hanya merugikan diri kita sendiri, tetapi juga merugikan orang lain. Demikian pula di dalam kehidupan ini ada rambu-rambu kehidupan, baik itu rambu-rambu yang memperbolehkan kita melakukan sesuatu tetapi ada juga rambu-rambu yang berisi larangan. Ada rambu-rambu yang mengharuskan kita untuk terus mengembangkannya atau bahkan sama sekali harus meninggalkannya. Rambu-rambu lalu lintas kehidupan seperti ini ada di Tipitaka dan kitab komentar.

Ketika kita mempelajari kitab suci maka kita akan melihat bahwa problem kemanusiaan 2500 tahun yang lalu dan hari ini pun sama saja, banyak orang yang tidak memahami rambu-rambu kehidupan. Isi dari Parābhava Sutta ini adalah mengenai rambu-rambu kehidupan. Kalau tidak ingin runtuh di dalam kehidupan ini maka kita dilarang untuk memasuki area ini dan itu, jangan pernah mencoba untuk memasukinya!

Salah satu sebab keruntuhan yang dibahas dalam sutta ini adalah melakukan pelanggaran sīla kelima Buddhist. Bunyi dari sīla kelima adalah Surāmeraya majjapamādaṭṭhānā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi. Apakah kita mengetahui artinya? samādiyāmi berasal dari kata sammā yang artinya benar dan ādiyāmi berarti saya mengambil, jadi samādiyāmi artinya saya mengambil dengan benar atau dengan serius; sikkhāpadaṁ berasal dari kata sikkhāpada artinya peraturan latihan; majjapamādaṭṭhānā, ṭhāna artinya dari kesempatan atau dari keadaan, pamāda artinya lengah atau ceroboh; veramaṇī artinya penahanan diri atau berpantang; surāmeraya artinya minuman keras, alkohol, hasil fermentasi dan lain sebagainya. Dengan demikian arti dari sīla ini adalah saya mengambil dengan serius peraturan latihan tentang penahanan diri dari kesempatan atau keadaan yang menyebabkan timbulnya kelengahan yang disebabkan oleh minuman keras, alkohol, fermentasi dan lain sebagainya.

Jadi, pahamilah sīla yang kita latih supaya kita dapat mendisiplinkan diri untuk menjauhi hal-hal yang harus dihindari walau ada kesempatan. Bila orang di sekeliling kita sedang minum minuman keras maka lebih baik menjauh darinya. Mungkin ada yang berpikir bahwa kalau mengonsumsi minuman keras selama tidak sampai mabuk maka itu bukanlah pelanggaran sīla. Peraturannya tidak berhubungan dengan mabuk atau tidak, melainkan menjauhkan atau menghindari segala kemungkinan yang dapat menyebabkan kita lengah atau membuat kita menjadi manusia yang ceroboh. Itulah mengapa pengetahuan Dhamma itu penting karena akan membantu kita dalam membangun kehidupan yang baik dan benar.

Buddha mengatakan bahwa kenikmatan dan kepuasan indirawi hanya bersifat sesaat saja, namun kenikmatan yang sesaat itu membawa dampak penderitaan yang sangat panjang. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dan terus berusaha mengendalikan indra-indra kita.

Pada akhirnya, semua orang harus berhati-hati, tidak boleh lengah karena kecerobohan akan membawa kehidupan siapa pun ke arah yang negatif. Bangunan kehidupan yang sudah mulai reyot, harus dibangun kembali secara perlahan dengan modal pariyatti (Tipitaka). Dengan demikian kehidupan akan menjadi ringan, nyaman, damai dan bahagia.

Gradient makha bucha day illustration Free Vector

“Kualitas kebahagiaan tidak diukur dari berapa banyak keinginan yang terpenuhi melainkan dari seberapa banyak kita telah terbebas dari keinginan”

-Ashin Kheminda

Sumber Tulisan :
Tulisan ini merupakan hasil dari beberapa poin yang menjadi perhatianku setelah selesai membaca Parābhava Sutta (Diskursus tentang Keruntuhan) yang ditulis oleh Ashin Kheminda dalam bukunya yang berjudul “Kompillasi Ceramah tentang Suttanta 1”.

Penghentian Bentuk-Bentuk Pikiran yang Mengganggu

Pikiran kita terkadang memang tidak mudah untuk dimengerti. Ia bisa pergi kemanapun yang dimau, dan pergi melompat dari satu objek ke objek yang lain tanpa perlu izin dari siapapun. Celakanya, pikiran yang muncul dalam keseharian kita tidak selalu merupakan pikiran baik. Oleh karena itu, penting sekali untuk memahami bagaimana cara bekerjanya pikiran kita.

Ketika pikiran buruk muncul dalam hidup kita, bagaimanakah respon kita terhadapnya? Apakah kita hanya berpasrah? atau apakah kita justru berusaha menolak dan bertarung dengan pikiran buruk tersebut?

Kali ini aku akan membagikan sedikit tips yang pernah aku terapkan untuk menghalau bentuk-bentuk pikrian yang mengganggu berdasarkan Vitakkasaṇṭhāna Sutta. Bahkan, ketika tulisan ini dibuat, aku baru saja menerapkannya.

Sebelum membagikan tips tersebut, ada baiknya kita menyamakan persepsi tentang apa yang disebut dengan pikiran buruk. Karena batasan antara pikiran baik dan pikiran buruk seringkali menjadi sangat subjektif. Singkatnya, pikiran buruk yang aku maksudkan dalam tulisan kali ini adalah pikiran yang muncul karena dilandasi oleh ketidaktahuan, keserakahan ataupun kebencian.

Beberapa cara sederhana untuk mengetahui ketika pikiran buruk muncul adalah kita menjadi tidak tenang (seolah-olah batin kita bergoyang), kemudian perasaan yang muncul menjadi tidak nyaman, ataupun kita tidak rela untuk melepaskan objek pikiran tersebut karena menggenggam objek tersebut terlalu erat. Jika salah satu tanda tersebut muncul, aku ucapkan selamat, karena artinya pikiran buruk sudah berhasil menunjukkan eksistensinya.

Agar pikiran buruk tersebut tereduksi, ada 5 cara untuk menghentikan bentuk-bentuk pikiran yang tidak baik berdasarkan Vitakkasaṇṭhāna Sutta (MN 20), yaitu :

  1. Memperhatikan citra yang terkait dengan sesuatu yang lain/berbeda dari citra tersebut
  2. Menyelidiki pikiran-pikiran ini adalah tidak kekal, tercela dan juga memberikan penderitaan sebagai resultannya
  3. Melupakan dan tidak memperhatikan pikiran-pikiran tersebut
  4. Memperhatikan kondisi, sebab dan akar dari pikiran yang tidak baik dan jahat
  5. Mengendalikan pikiran yang tidak baik dan jahat

Meskipun 5 cara di atas sangat membantu untuk menghalau bentuk-bentuk pikiran yang mengganggu. Akan tetapi, cara favoritku adalah nomor (2) dan nomor (4). Walaupun demikian, bukan berarti 3 cara yang lain tidak berhasil, karena bagaimanapun setiap orang memiliki kecenderungan yang berbeda-beda. Kedua cara yang aku favoritkan, belum tentu juga menjadi favorit untuk orang yang lainnya. Oleh karena itu, cobalah praktikkan salah satu dari lima cara di atas ketika bentuk-bentuk pikiran buruk mulai menyerang.

Selain itu, terkadang aku pun justru lebih memilih cara alternatif berikut, yaitu dengan menerapkan yoniso manasikāra (perhatian yang bijaksana) yang memahami bahwa segala sesuatu adalah anicca (tidak kekal), dukkha (penderitaan), anatta (bukan diri) dan asubha (tidak indah).

Apapun cara yang kita terapkan nantinya, semoga bisa mentransfrormasi pikiran buruk kita menjadi ke arah pikiran yang baik. Karena jika pikiran baik muncul, kita sudah berhasil membuat satu orang menjadi bahagia, yaitu diri kita sendiri. Selain itu, aku pun percaya bahwa kebahagiaan itu menular, jadi semoga dengan kebahagiaan diri kita mendorong untuk kebahagiaan semua makhluk.

Semoga semua hidup berbahagia.

“When you stop learning you start dying”

-Albert Einstein

Sumber Tulisan :

Vitakkasaṇṭhāna Sutta yang disampaikan oleh Ashin Kheminda di Channel Youtube Dhammavihari Buddhist Studies (Agustus 2020)

Perlukah Melatih Meditasi Setiap Hari?

Semoga dalam kesempatan kali ini, semuanya dalam keadaan baik. Yang dimaksudkan dengan baik itu artinya kita masih bisa untuk menjalankan kehidupan kita sehari-hari dan masih bisa berlatih bermeditasi. Karena banyak orang diluar sana yang kurang beruntung atau dalam keadaan tidak baik, mungkin sedang menderita sakit parah di rumah sakit atau mungkin mempunyai kesibukan yang terpaksa, yang tidak bisa dihindari harus dilakukan, sehingga tidak sebaik kita, yang berkesempatan untuk melatih pikiran harmonis kita untuk muncul dan bertambah kuat.

Mungkin saja kita juga ada masalah, dalam arti masalah hidup, problem yang harus kita hadapi, tapi tetap baik karena kita masih bisa berusaha menggunakan kebaikan-kebaikan yang kita miliki, yang kita syukuri untuk meningkatkan kualitas badan, pikiran dan tentu saja kualitas hidup.  Salah satu caranya itu adalah melatih pikiran harmonis kita agar kuat melalui meditasi.

Nah, kali ini topik yang dipilih akan membahas berkaitan dengan “Mengapa kita perlu bermeditasi?”

Kita sebagai manusia, mempunyai badan, pikiran dan jiwa atau kadang-kadang disebut soul atau atman atau roh atau kesadaran, silakan disesuaikan dengan ajaran agama kita masing-masing. Nah, badan dan pikiran kita sama, hampir semua orang sama, hanya mungkin kekuatannya berbeda-beda, kondisinya, kualitasnya berbeda-beda. Tapi, dia sangat universal. Dia adalah alat kehidupan kita, yaitu “alat yang mengetahui”.

Karena roh, atman, kesadaran atau jiwa ini “dia yang mengetahui”, yang bisa kita latih, supaya dia lebih bagus kualitasnya. Dengan kata lain, level konsentrasi, kesadaran, cinta kasih, rasa damai, rasa hening, tingkat kebijaksanaannya dapat menjadi semakin bagus dan kuat agar kualitas kehidupan kita bertambah baik.

Seperti yang sudah kita ketahui, otot-otot pikiran terdiri dari 52, yaitu 14 otot yang buruk, 13 yang netral, dan 25 yang indah. Perhatikan bagan berikut untuk ringkasannya.

Sumber : Meditasi Bali Usada – Reguler Usada 1- Pertemuan kelima

Setiap kita berlatih meditasi, kita berusaha melatih pikiran baik dan pikiran netralnya supaya makin kuat.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti banyak menghadapi yang harus dihadapi dengan kegelisahan, atau kita hadapi dengan kekhawatiran, kemalasan, kebosanan, kerinduan ataupun ketagihan. Akibatnya, kecenderungan dari pikiran kita itu ototnya menjadi buruk. Ketika kita mau berbuat baik, jika otot pikiran kecenderungannya buruk, sulit sekali untuk berbuat baik. Oleh karena kecenderungan atau karakter ini, hendaknya kita latih supaya pikiran kita biasa baik, dalam hal ini dibiasakan baik yang harmonis melalui meditasi. Singkatnya, meditasi menjadi penting dan perlu dilakukan untuk melatih pikiran supaya menjadi harmonis.

Melalui pikiran yang harmonis, dia bisa memasuki badan dan memori semakin dalam, sehingga kita tidak terhanyut oleh kegelisahan, kebencian, kekhawatiran, ego, kerinduan ataupun kemalasan. Dengan kata lain, ketika pikiran harmonis hadir, badan dan memori kita menjadi sadar, lembut, penuh dengan cinta kasih dan kebijaksanaan. Tentu saja, pelepasan-pelepasan reaksi-reaksi buruk di memori dan problem-problem yang kurang baik di badan mudah-mudahan dapat dibantu, atau bahkan disembuhkan. Sehingga, kita semakin sehat dan kita semakin tenang dalam menghadapi hidup ini. Jadi, salah satu tujuan dari bermeditasi adalah melatih menguatkan pikiran harmonis.

Apapun yang kita lakukan, ketika kita menggerakan badan kita, berbuat dengan badan kita, mungkin kita berjalan. Kita mengangkat barang, ataupun berolahraga. Kalau kita berada di kesadaran yang baik, lembut,  lalu lakukan dengan konsentrasi yang bagus, dia menjadi perbuatan baik. Nah, apapun yang kita pikirkan, kita evaluasi, kita lakukan di dalam pikiran kita, kalau munculnya otot-otot pikiran harmonis, dia menjadi berpikir baik. Andaikan badan dan pikiran kita baik, sehat, alat ini baik, kecenderungan dalam hidup untuk kita merasa damai, tenang, kecenderungan perbuatan kita, terutama karakter kita, reflek kita, dia pasti mengarah ke bagian yang baik. Jadi, itu sebabnya penting sekali untuk melatih pikiran harmonis, karena kita selalu menggunakannya setiap hari, tentu saja dia mengalami banyak goncangan karena bagian dari hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita berusaha bersama-sama untuk melatih pikiran harmonis (pikiran yang sadar, yang lembut, yang bijaksana, yang konsentrasinya bagus) dalam hidup ini secara rutin dengan cara bermeditasi setiap hari.

Berusahalah hari ini juga!
Siapa tahu kematian ada di esok hari.
Karena tawar menawar dengan Sang Raja Kematian,
bersama pasukan besarnya tiada bagi kita.

(Salah satu stanza dari Bhadekaratta Sutta)

Semoga semua hidup berbahagia.

How to find Your Why?

Poor people do what’s easy, that’s why their life is hard. Rich people do what is hard, that’s why their life is easy.

It’s easy to come home from work and meet friends for dinner or watch TV.

It’s far harder to go a business event or put in the hours to study a new skill or do a podcast interview.

Whatever your goals and dreams are…

Or whatever you’re experiencing in life right now.

You have a choice.

Do you pursue your dreams or continue taking the easy road?

There’s no right or wrong here…

But if you want to build the business and life or your dreams, you’ll know what to do.

When your why is strong enough,
you’ll never make another excuses in your life.

-Dan Lok

Before you make your excuse, think about your “WHY

There are 4 questions absolutely will change our life based on Jim Rohn.

  1. Why”….?
  2. Why not”….?
  3. Why not you”….?
  4. Why not now”….?

I’ll give example how to use it.

  1. Why set the goals?
  2. Why not set the goals?
  3. Why not you set the goals?
  4. Why not now set the goals?
15 Jim Rohn Quotes to Keep You Going When You Feel Demotivated

Cara Meraih Apapun yang Kita Impikan dalam Hidup

Kehidupan tidak terlepas dari harapan, impian ataupun tujuan yang kita ingin kita peroleh. Tapi, ironisnya beberapa orang justru terjebak dalam proses mewujudkannya. Bahkan, moralitas dan etika pun seringkali dikorbankan dibalik dalih keegoisan diri sendiri.

Beberapa orang juga terkesan lupa bahwa semua dalam hidup itu relatif. Tidak ada pattern yang 100% cocok untuk semua orang. Selayaknya satu kunci pada umumnya yang hanya bisa membuka satu pintu. Oleh karena itu, tidak sepantasnya kita memaksakan kehendak. Misalnya, orang yang sedang berlari kencang perlu mengetahui cara untuk slow down. Sebaliknya, orang yang sedang berdiam diri butuh untuk mengetahui cara untuk berlari kencang. Bukan berarti keduanya bertolak belakang, hanya saja kehidupan memang selalu memiliki situasi dan kondisi yang selalu berubah. Jadi, nikmati saja setiap prosesnya, tetap fokus pada tujuan. Jika memang tujuannya sama, cepat atau lambat, pasti akan bertemu di akhir.

Meskipun tidak ada pola yang bisa cocok sepenuhnya untuk semua orang agar meraih apapun yang diimpikan dalam hidup, setidaknya 3 hal berikut menjadi fundamental jika ingin mewujudkan apapun keinginan kita, yaitu:

  1. MERITS (Timbunan Kebajikan) –> Semua akumulasi hal-hal dan daya upaya yang sudah dilakukan. Ingatlah bahwa kerja keras saja tidak cukup.
  2. CLARITY (Kejernihan Pikiran) –> Tetap jelas terhadap apa yang akan dicapai, apa tujuan awal, yang mendasari semua daya upaya yang kita lakukan
  3. STAMINA (Daya Tahan Mental untuk terus berjuang mengupgrade diri dan berjalan jauh) –> Ketahanan kita selama proses tersebut sampai pada akhirnya tercapai tujuan kita

Fokus mengembangkan 3 hal ini. Tidak usah pusingkan dulu hal yang lain. Well, I think this is absolutely works in every aspect in life. Sampai jumpa di post selanjutnya. May All Beings Be Happy.

Goals - Free of Charge Creative Commons Chalkboard image

Your DECISION,
Not Your CONDITION,
Will Detemine YOUR DESTINY

-Tony Robbins

170322

Cinta itu realita, bukan obsesi.
Cinta tidak perlu pengorbanan, tapi kerelaan.
Tidak ada yang perlu dikorbankan atas nama cinta.
Karena cinta hanya mengenal kata “memberi”.

Juniar Yusuf

Bagaimana Caraku Menghadapi Jebakan dalam Bermeditasi?

Berbicara terkait dengan meditasi memang terkesan tidak ada habisnya. Meskipun demikian, sebisa mungkin aku berusaha terus konsisten membagikan berbagai informasi perihal meditasi yang tentu saja sudah aku rasakan sendiri manfaatnya sebelum menuliskan ulang dalam blog ini.

Beberapa orang masih menganggap meditasi adalah hal yang mudah dan mungkin sekedar latihan pernapasan saja. Tapi, faktanya meditasi tidak semudah itu. Meditasi juga bukanlah latihan pernapasan, melainkan hanya memanfaatkan napas sebagai alat bantu untuk memunculkan pikiran harmonis saja. Mengapa meditasi bukan latihan pernapasan? Karena dalam meditasi kita tidak berusaha mengatur keluar-masuknya napas, melainkan hanya menyadarinya. Kita tidak berusaha untuk mengendalikan napas, baik itu napas yang panjang, pendek, tersambung, terputus, kasar, halus, keras maupun lembut. Kita membiarkan napas berjalan dengan alami.

Tidak sedikit dari kita yang sudah berlatih meditasi tapi terasa tidak ada peningkatan sama sekali. Bisa jadi, hal tersebut terjadi karena kita dikelabui oleh jebakan yang timbul dalam berlatih meditasi. Salah satu jebakan dari bertambahnya pengetahuan dan pengalaman dalam meditasi adalah lupa akan tujuan awal.

Yang kedua, jangan lupa pre-conditioning sebelum meditasi. Why? Bagi umat perumah tangga (kecuali dirimu adalah pertapa yang meditasi 20 jam sehari), faktor-faktor mental yang digunakan saat menjalani keduniawian adalah bertolak belakang dengan praktik spiritual.

Dalam menjalani keduniawian, ego dan nafsu sangat diperlukan sebagai penggerak untuk tetap bersemangat dan memenuhi tuntutan kehidupan. Sebaliknya, dalam praktik spiritual, ego, nafsu, gairah dan semangat akan menjadi belenggu dan rintangan. Bahkan, ketika terlalu happy, dijamin kamu pun akan sulit memasuki kondisi meditatif.

Oleh karena itu, pre-conditioning sebagai jembatan untuk menyediakan tempat, badan dan batin ke frekuensi spiritual itu diperlukan. Sampai duniawi perlahan ditinggalkan dan spiritualisme menjadi penggerak utama kehidupanmu, pre-conditioning tidak lagi diperlukan.

 

Always Have Day one mentality, bring back the right intention and pre-conditioning

Pre-conditioning for Meditation

Yang saya maksud adalah mempersiapkan batin untuk masuk ke frekuensi spiritiual. Sekarang apa saja yang dominan dalam kehidupan duniawi dan menjauhkan pada spiritual? Pertama adalah nafsu keinginan yang kasar. Kedua adalah niat, pengertian dan pengharapan yang keliru.

Dana (latihan kemurahan hati) dan Sila (latihan kemoralan) adalah fondasi meditasi. Tapi mengerti tujuannya? Tidak lain adalah mengikis nafsu. Jadi, kalau praktik berdanamu justru makin meningkatkan nafsu dan kemelekatan, kamu akan susah move-on karena kegirangan dipuji-puji. Meditasi akan jadi susah karena terus-menerus diulang dalam pikiran. Padahal berdana untuk melepas.

Esensi menjalankan Sila juga untuk mengendalikan nafsu. Jadi, meskipun hari itu tidak melanggar sila, tapi diliputi nafsu dan emosi, meditasi juga akan lebih sulit. Meskipun yang dilakukan mungkin bermanfaat bagi orang lain.

Pre-conditioning membantu menetralisir vibration kasar tersebut sehingga proses latihan spiritual menjadi alami.

Caranya berbeda-beda untuk masing-masing individu. Misalnya, bersihkan tubuh dan istirahatkan indera. Kondisikan tempat atau miliki tempat yang sakral sehingga vibrasi duniawi luntur. Jaga aktivitas sebelum meditasi agar mengarah pada ketenangan. Apa yang dimakan dan seberapa banyak juga berpengaruh. Bisa baca paritta singkat dulu atau stretching dulu dan sebagainya. You have to find your own switch/trigger to come back home.

Kalau sudah terampil, cukup gunakan mental trigger (misal: Bud-Dho) sudah bisa langsung masuk, di kondisi apapun. Tapi, orang yang duniawinya sangat sibuk dan bukan hidup di kondisi yang ideal, pre-conditioning ini dapat membantu.

Bahkan, bagi yang sudah terampil, pre-conditioning akan membantu agar latihan dia berada di jalur yang benar. Selain itu, kuncinya adalah menyadari segala sesuatu yang baik ataupun buruk, yang nyaman ataupun tidak nyaman secara netral, tanpa menghakimi dan pembenaran, serta melihat semua fenomena sebagaimana mestinya. Karena fenomena apapun akan selalu berubah, ia tidak kekal.

Free photo Monk Meditating Monk Meditate Meditation Zen - Max Pixel
Buddhist Monk Meditating

Last but not least, berjuanglah dengan sepenuh hati, dengan hati yang semakin melepas. Just be a student and practioner of the noble way. Keep practicing. Everything else will just follow.

It’s never going to be easy but It’s always going to be worth-it.

-Irvyn Wongso

Sampai jumpa di post selanjutnya. Semoga Semua Hidup Berbahagia

Notes :
Tulisan di atas terinspirasi dan dikompilasikan dari beberapa IG Story irvyn wongso (@irvynwongso)

Hidup adalah Sebuah Pertandingan

Kita kembali diingatkan akan hal tersebut karena apabila dilihat dari proses berpikir, pikiran kita itu munculnya jutaan, bahkan dikatakan triliunan kali per detik. Dia cepat sekali dan muncul melalui pancaindra. Sayangnya, proses berpikir yang kita sadari hanya antara 2-5%. Sedangkan yang lainnya itu, sekitar 95%, kita lakukan dengan bereaksi setengah sadar ataupun di bawah sadar, bisa berupa reaksi pikiran yang baik ataupun justru yang buruk.

Mari kita tinjau contoh berikut ini. Begitu kita bangun pagi, kita sadar oh saya bangun. Sesaat setelah kita sadar dengan diri kita maupun badan kita. Kita sadar rasanya kok seperti kurang enak, “misalnya, ingin buang air kecil begitu”, lalu kita pergi dari tempat tidur kita dan menuju ke kamar mandi. Seakan-akan, pikiran sadar kita sudah berada di kamar mandi. Namun, ketika kita turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi,  kita tidak sadari pergerakan kaki kita, baik kaki kita yang kiri ataupun yang kanan. Begitu sadar, kita sudah berada di kamar mandi. Contoh yang sederhana ini memberikan gambaran terkait teknis kemunculan pikiran bawah sadar kita yang sering kali luput dari perhatian.

Jadi, dalam kehidupan sehari-hari banyak yang seperti itu. Contoh yang lain, ketika kita ingin makan, umpamanya, kita mengisi sendok dengan nasi, sambal sedikit dan sayur. Kita memang sadar ketika memilih makanan tersebut. Namun, selagi kita memasukkan makanan tersebut ke mulut, lalu telinga kita mendengarkan kawan kita yang berada di depan yang sedang kita ajak makan. Kemudian, mata kita pun sedang melihat mereka, sedangkan mulut kita justru sedang asyik mengunyah makanan tersebut. Itupun yang menggerakan merupakan pikiran di bawah sadar kita. Jadi, banyak sekali di kehidupan kita itu, kita lakukan menggunakan pikiran bawah sadar.

Apalagi kalau dalam kehidupan sehari-hari, kita memiliki kegiatan yang begitu banyak. Mungkin saja kita kalah, hal-hal yang kita sadari 2-5% itu memang baik, tapi sisanya yang 95% itu kemungkinan besar merupakan pikiran yang buruk. Kita berpikir ini, berpikir itu. Dengan kata lain, pikiran kita begitu liar. Oleh karena itu, kita kalah.

Contoh yang baik andaikan kita sedang berlatih untuk bermain tenis meja. Mula-mula kan hari pertama kita diajarkan bagaimana cara service, malakukan smash, baik ke arah kiri ataupun kanan, lalu mempelajari cara mempelintir bolanya biar hasil pukulan kita tidak mudah untuk dikembalikan oleh lawan. Tentu saja, supaya bisa bermain tenis meja di level tersebut, diperlukan latihan beberapa hari dengan penuh perhatian, sungguh-sungguh, dan kita harus sadar dalam melakukannya. Akan tetapi, lama-lama, setelah beberapa hari atau beberapa minggu, ketika kita main tenis meja, sambil ngomong-ngomong dengan teman pun bisa. Jadi, setengah sadar dan di bawah sadar kita sudah ikut bermain tenis meja.

Kehidupan juga serupa dengah hal tersebut. Jika kita rajin melatih pikiran yang baik, dalam hal ini yaitu pikiran yang harmonis. Setiap hari kita latih dengan bermeditasi. Kita meluangkan waktu dan menyempatkan diri untuk berlatih menguatkan pikiran yang harmonis. Nanti dalam hidup, dalam bertanding dalam hidup, mungkin kegiatan 2-5% kita sudah bagus. Nah di bawah sadar kita yang 95%, karena kita latih setiap hari, ada kemungkinan banyak bagusnya juga, kita reflek sehingga kesehatan dan ketenangan bisa kita peroleh. Jadi, dalam hal ini, yaitu dalam bermeditasi, hidup adalah pertandingan, maksudnya harus dilatih supaya kita berhasil memenangkan pertandingan dalam proses kehidupan ini. Dengan kata lain, dalam hidup, kita berhasil memunculkan lebih banyak pikiran yang baik, dibandingkan pikiran yang buruk.

Agar kita memenangkan pertandingan tersebut, usahakanlah berlatih meditasi setiap hari. Mungkin 30 menit ataupun 45 menit, sehingga dalam menghadapi proses kehidupan, lebih banyak pikiran baik yang muncul untuk menjaga diri kita.

Dalam hal apapun, jika kita mengetahui tujuannya, semangat akan muncul dengan sendirinya. Selanjutnya, Lakukanlah dengan tekun dan evaluasi dengan baik, maka kesuksesan akan kita peroleh. Sudahkah kita melatih pikiran agar kuat memegang tujuan/cita-cita kita?

Free photo Energy Yoga Meditation Relaxation Aura Chakra - Max Pixel

If you know the enemy and know yourself, you need not fear the result of hundred battles.
If you know yourself but not the enemy, for every victory gained you will also suffer a defeat.
If you know neither the enemy nor yourself, you will succumb in every battle
.”

Sun Tzu. The Art of War

020322

Heal yourself, but don’t rush.
Help people, but have boundaries.
Love others, but don’t let them harm you.
Love yourself, but don’t become egostical.
Stay informed, but don’t overwhelm yourself.
Embrace change, but keep pursuing your goals

-Yung Pueblo

Copyright © 2022 - Wilsen

UP ↑