Mengapa Kita Ragu untuk Berlatih?

Beberapa orang yang kutemui akhir-akhir ini membuatku semakin mengerti akan betapa pentingnya untuk terus meniti karir spiritual walaupun hidup sebagai perumah tangga. Kehidupan akan jauh lebih mudah untuk dijalani jika kita sudah mengetahui bahwa pada hakikatnya di dalam kehidupan, semua itu berproses. Tapi, seringkali ada anggapan bahwa maksud kata berproses disini hanya perubahan dari hal baik menjadi hal buruk atau justru sebaliknya, perubahan dari hal buruk menjadi hal baik. Sesungguhnya tidaklah sesederhana itu, yang dimaksud berproses juga bisa memberikan peluang untuk hal baik menjadi lebih baik lagi dan hal buruk menjadi lebih buruk.

Hand drawn people asking questions illustration Free Vector

Aku selalu saja tertarik untuk mendapatkan jawaban dari sebagian orang berkaitan dengan “Mengapa ada yang tidak serius untuk berlatih meskipun sebagai perumah tangga?” Semakin aku mencoba mendapatkan jawabannya, semakin aku mengerti bahwa kita semua memiliki pengalaman, situasi, kondisi dan latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, cara dalam menjalaninya kehidupannya pun begitu beragam.

Beberapa dari kita menjalankan kehidupan hanya berdasarkan rasa suka dan tidak suka. Jika suka, kita tidak ingin melepasnya. Sedangkan, apabila kita tidak suka, selalu saja rasanya ingin segera lepas darinya. Namun, pernahkah terpikir bahwa dengan mudahnya kita terperdaya dengan perasaan kita. Tidak sedikit masalah yang timbul hanya karena masing-masing orang berusaha mempertahankan apa yang mereka suka dan mencoba menghancurkan apa yang mereka tidak suka.

Segelintir orang yang kutemui sebetulnya ingin berlatih, tetapi biasanya mereka memiliki banyak sekali keraguan dalam berlatih. Bahkan, mereka seringkali bertanya pada dirinya sendiri “Apakah yang aku lakukan sudah benar?” Celakanya, dari satu keraguan, jika tidak segera mendapatkan jawabannya, akan menuju ke keraguan selanjutnya. Lebih tepatnya seperti bola salju yang semakin lama menggelinding akan semakin besar pula. Seperti itulah, keraguan jika tidak segera diatasi. Hingga akhirnya, mereka pun terjebak dalam permainan teoritis dan melupakan praktik.

Sebenarnya, obat untuk mengikis keraguan adalah “pengetahuan”. Cobalah untuk selalu “mengosongkan cawan” ketika dipertemukan dengan hal baru. Karena, jika cawan kita penuh, tidak ada hal yang bisa dimasukkan lagi ke dalamnya. Bagaimanapun, apa yang kita tidak ketahui, belum tentu itu tidak ada, hanya saja kita belum mengerti saat itu. Belajarlah menerima terlebih dahulu apapun itu, setelahnya baru berusaha.

Hal penting yang harus dimengerti adalah kita hanya berusaha mengondisikan supaya baik. Perihal hasilnya nanti seperti apa, itu diluar kendali kita. Tapi, perlu diingat jika kondisi baik dapat mendukung kemunculan hal yang baik juga. Selain itu, sebisa mungkin, jadilah makhluk yang tidak berbahaya bagi makhluk lainnya. Kita harus tanamkan dalam diri bahwa “Selayaknya kita yang ingin bahagia, begitu juga dengan makhluk yang lainnya”.

Jangan lupakan praktik kita sendiri, sesibuk apapun diri kita. Sisihkan waktu lebih untuk mendalami Dhamma dan meditasi. Luangkan waktu bagi diri sendiri untuk menyelami ajaran, mempraktikkan-nya dengan semakin tekun dan penuh tekad. Yang dapat mengurangi penderitaan adalah Dhamma yang dipraktikkan bagi diri sendiri untuk mengikis berbagai pandangan keliru dan keakuan. Oleh karena itu, tekunlah dalam sila, samadhi, dan panna. Hanya dengan cara ini, kita bisa mengatasi penderitaan.

Selanjutnya, jangan lupakan kondisi pendukung yang telah membuatmu berjodoh dengan kebaikan, meskipun kondisi tersebut telah berubah dan tak seindah dulu. Hal ini akan menentukan jodohmu dengan kondisi baik lainnya dalam hidup ini.

“Jangan biarkan diri kita ditarik oleh gravitasi kotoran batin. Berusahalah untuk menaikkannya lagi”

Irvyn Wongso

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya. Semoga semua hidup berbahagia

Sumber Tulisan :
*Kompilasi dari beberapa IG Stories Ko Irvyn Wongso (@irvynwongso)

Sebagian Kecil dari Parābhava Sutta (Diskursus tentang Keruntuhan)

Kita saat ini masih berputar-putar di dalam samsara. Perjalanan ini bisa saja tanpa akhir. Sejauh ini, Kita sudah menempuh perjalanan yang sangat panjang di samsara ini. Saat ini seorang lahir sebagai manusia. Akan tetapi, selama dia masih puthujjana maka tidak tertutup kemungkinan dia akan lahir di alam-alam yang rendah.

Ketika lahir sebagai manusia mendapatkan kesempatan untuk mempelajari hal-hal yang baik, tetapi ketika lahir sebagai makhluk di alam yang penuh penderitaan, dia akan kesulitan mendapatkan kesempatan untuk mempelajari hal seperti itu. Oleh karena itu, mumpung kita sekarang sudah lahir menjadi manusia maka kita harus belajar tentang mana yang baik dan mana yang tidak baik; tentang mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Bayangkan ketika kita mengemudikan mobil. Apabila kita tidak mengetahui rambu-rambu yang berlaku di jalan raya, maka kita akan membawa mobil itu dengan serampangan. Hal ini tidak hanya merugikan diri kita sendiri, tetapi juga merugikan orang lain. Demikian pula di dalam kehidupan ini ada rambu-rambu kehidupan, baik itu rambu-rambu yang memperbolehkan kita melakukan sesuatu tetapi ada juga rambu-rambu yang berisi larangan. Ada rambu-rambu yang mengharuskan kita untuk terus mengembangkannya atau bahkan sama sekali harus meninggalkannya. Rambu-rambu lalu lintas kehidupan seperti ini ada di Tipitaka dan kitab komentar.

Ketika kita mempelajari kitab suci maka kita akan melihat bahwa problem kemanusiaan 2500 tahun yang lalu dan hari ini pun sama saja, banyak orang yang tidak memahami rambu-rambu kehidupan. Isi dari Parābhava Sutta ini adalah mengenai rambu-rambu kehidupan. Kalau tidak ingin runtuh di dalam kehidupan ini maka kita dilarang untuk memasuki area ini dan itu, jangan pernah mencoba untuk memasukinya!

Salah satu sebab keruntuhan yang dibahas dalam sutta ini adalah melakukan pelanggaran sīla kelima Buddhist. Bunyi dari sīla kelima adalah Surāmeraya majjapamādaṭṭhānā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi. Apakah kita mengetahui artinya? samādiyāmi berasal dari kata sammā yang artinya benar dan ādiyāmi berarti saya mengambil, jadi samādiyāmi artinya saya mengambil dengan benar atau dengan serius; sikkhāpadaṁ berasal dari kata sikkhāpada artinya peraturan latihan; majjapamādaṭṭhānā, ṭhāna artinya dari kesempatan atau dari keadaan, pamāda artinya lengah atau ceroboh; veramaṇī artinya penahanan diri atau berpantang; surāmeraya artinya minuman keras, alkohol, hasil fermentasi dan lain sebagainya. Dengan demikian arti dari sīla ini adalah saya mengambil dengan serius peraturan latihan tentang penahanan diri dari kesempatan atau keadaan yang menyebabkan timbulnya kelengahan yang disebabkan oleh minuman keras, alkohol, fermentasi dan lain sebagainya.

Jadi, pahamilah sīla yang kita latih supaya kita dapat mendisiplinkan diri untuk menjauhi hal-hal yang harus dihindari walau ada kesempatan. Bila orang di sekeliling kita sedang minum minuman keras maka lebih baik menjauh darinya. Mungkin ada yang berpikir bahwa kalau mengonsumsi minuman keras selama tidak sampai mabuk maka itu bukanlah pelanggaran sīla. Peraturannya tidak berhubungan dengan mabuk atau tidak, melainkan menjauhkan atau menghindari segala kemungkinan yang dapat menyebabkan kita lengah atau membuat kita menjadi manusia yang ceroboh. Itulah mengapa pengetahuan Dhamma itu penting karena akan membantu kita dalam membangun kehidupan yang baik dan benar.

Buddha mengatakan bahwa kenikmatan dan kepuasan indirawi hanya bersifat sesaat saja, namun kenikmatan yang sesaat itu membawa dampak penderitaan yang sangat panjang. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dan terus berusaha mengendalikan indra-indra kita.

Pada akhirnya, semua orang harus berhati-hati, tidak boleh lengah karena kecerobohan akan membawa kehidupan siapa pun ke arah yang negatif. Bangunan kehidupan yang sudah mulai reyot, harus dibangun kembali secara perlahan dengan modal pariyatti (Tipitaka). Dengan demikian kehidupan akan menjadi ringan, nyaman, damai dan bahagia.

Gradient makha bucha day illustration Free Vector

“Kualitas kebahagiaan tidak diukur dari berapa banyak keinginan yang terpenuhi melainkan dari seberapa banyak kita telah terbebas dari keinginan”

-Ashin Kheminda

Sumber Tulisan :
Tulisan ini merupakan hasil dari beberapa poin yang menjadi perhatianku setelah selesai membaca Parābhava Sutta (Diskursus tentang Keruntuhan) yang ditulis oleh Ashin Kheminda dalam bukunya yang berjudul “Kompillasi Ceramah tentang Suttanta 1”.

Penghentian Bentuk-Bentuk Pikiran yang Mengganggu

Pikiran kita terkadang memang tidak mudah untuk dimengerti. Ia bisa pergi kemanapun yang dimau, dan pergi melompat dari satu objek ke objek yang lain tanpa perlu izin dari siapapun. Celakanya, pikiran yang muncul dalam keseharian kita tidak selalu merupakan pikiran baik. Oleh karena itu, penting sekali untuk memahami bagaimana cara bekerjanya pikiran kita.

Ketika pikiran buruk muncul dalam hidup kita, bagaimanakah respon kita terhadapnya? Apakah kita hanya berpasrah? atau apakah kita justru berusaha menolak dan bertarung dengan pikiran buruk tersebut?

Kali ini aku akan membagikan sedikit tips yang pernah aku terapkan untuk menghalau bentuk-bentuk pikrian yang mengganggu berdasarkan Vitakkasaṇṭhāna Sutta. Bahkan, ketika tulisan ini dibuat, aku baru saja menerapkannya.

Sebelum membagikan tips tersebut, ada baiknya kita menyamakan persepsi tentang apa yang disebut dengan pikiran buruk. Karena batasan antara pikiran baik dan pikiran buruk seringkali menjadi sangat subjektif. Singkatnya, pikiran buruk yang aku maksudkan dalam tulisan kali ini adalah pikiran yang muncul karena dilandasi oleh ketidaktahuan, keserakahan ataupun kebencian.

Beberapa cara sederhana untuk mengetahui ketika pikiran buruk muncul adalah kita menjadi tidak tenang (seolah-olah batin kita bergoyang), kemudian perasaan yang muncul menjadi tidak nyaman, ataupun kita tidak rela untuk melepaskan objek pikiran tersebut karena menggenggam objek tersebut terlalu erat. Jika salah satu tanda tersebut muncul, aku ucapkan selamat, karena artinya pikiran buruk sudah berhasil menunjukkan eksistensinya.

Agar pikiran buruk tersebut tereduksi, ada 5 cara untuk menghentikan bentuk-bentuk pikiran yang tidak baik berdasarkan Vitakkasaṇṭhāna Sutta (MN 20), yaitu :

  1. Memperhatikan citra yang terkait dengan sesuatu yang lain/berbeda dari citra tersebut
  2. Menyelidiki pikiran-pikiran ini adalah tidak kekal, tercela dan juga memberikan penderitaan sebagai resultannya
  3. Melupakan dan tidak memperhatikan pikiran-pikiran tersebut
  4. Memperhatikan kondisi, sebab dan akar dari pikiran yang tidak baik dan jahat
  5. Mengendalikan pikiran yang tidak baik dan jahat

Meskipun 5 cara di atas sangat membantu untuk menghalau bentuk-bentuk pikiran yang mengganggu. Akan tetapi, cara favoritku adalah nomor (2) dan nomor (4). Walaupun demikian, bukan berarti 3 cara yang lain tidak berhasil, karena bagaimanapun setiap orang memiliki kecenderungan yang berbeda-beda. Kedua cara yang aku favoritkan, belum tentu juga menjadi favorit untuk orang yang lainnya. Oleh karena itu, cobalah praktikkan salah satu dari lima cara di atas ketika bentuk-bentuk pikiran buruk mulai menyerang.

Selain itu, terkadang aku pun justru lebih memilih cara alternatif berikut, yaitu dengan menerapkan yoniso manasikāra (perhatian yang bijaksana) yang memahami bahwa segala sesuatu adalah anicca (tidak kekal), dukkha (penderitaan), anatta (bukan diri) dan asubha (tidak indah).

Apapun cara yang kita terapkan nantinya, semoga bisa mentransfrormasi pikiran buruk kita menjadi ke arah pikiran yang baik. Karena jika pikiran baik muncul, kita sudah berhasil membuat satu orang menjadi bahagia, yaitu diri kita sendiri. Selain itu, aku pun percaya bahwa kebahagiaan itu menular, jadi semoga dengan kebahagiaan diri kita mendorong untuk kebahagiaan semua makhluk.

Semoga semua hidup berbahagia.

“When you stop learning you start dying”

-Albert Einstein

Sumber Tulisan :

Vitakkasaṇṭhāna Sutta yang disampaikan oleh Ashin Kheminda di Channel Youtube Dhammavihari Buddhist Studies (Agustus 2020)

How to find Your Why?

Poor people do what’s easy, that’s why their life is hard. Rich people do what is hard, that’s why their life is easy.

It’s easy to come home from work and meet friends for dinner or watch TV.

It’s far harder to go a business event or put in the hours to study a new skill or do a podcast interview.

Whatever your goals and dreams are…

Or whatever you’re experiencing in life right now.

You have a choice.

Do you pursue your dreams or continue taking the easy road?

There’s no right or wrong here…

But if you want to build the business and life or your dreams, you’ll know what to do.

When your why is strong enough,
you’ll never make another excuses in your life.

-Dan Lok

Before you make your excuse, think about your “WHY

There are 4 questions absolutely will change our life based on Jim Rohn.

  1. Why”….?
  2. Why not”….?
  3. Why not you”….?
  4. Why not now”….?

I’ll give example how to use it.

  1. Why set the goals?
  2. Why not set the goals?
  3. Why not you set the goals?
  4. Why not now set the goals?
15 Jim Rohn Quotes to Keep You Going When You Feel Demotivated

Cara Meraih Apapun yang Kita Impikan dalam Hidup

Kehidupan tidak terlepas dari harapan, impian ataupun tujuan yang kita ingin kita peroleh. Tapi, ironisnya beberapa orang justru terjebak dalam proses mewujudkannya. Bahkan, moralitas dan etika pun seringkali dikorbankan dibalik dalih keegoisan diri sendiri.

Beberapa orang juga terkesan lupa bahwa semua dalam hidup itu relatif. Tidak ada pattern yang 100% cocok untuk semua orang. Selayaknya satu kunci pada umumnya yang hanya bisa membuka satu pintu. Oleh karena itu, tidak sepantasnya kita memaksakan kehendak. Misalnya, orang yang sedang berlari kencang perlu mengetahui cara untuk slow down. Sebaliknya, orang yang sedang berdiam diri butuh untuk mengetahui cara untuk berlari kencang. Bukan berarti keduanya bertolak belakang, hanya saja kehidupan memang selalu memiliki situasi dan kondisi yang selalu berubah. Jadi, nikmati saja setiap prosesnya, tetap fokus pada tujuan. Jika memang tujuannya sama, cepat atau lambat, pasti akan bertemu di akhir.

Meskipun tidak ada pola yang bisa cocok sepenuhnya untuk semua orang agar meraih apapun yang diimpikan dalam hidup, setidaknya 3 hal berikut menjadi fundamental jika ingin mewujudkan apapun keinginan kita, yaitu:

  1. MERITS (Timbunan Kebajikan) –> Semua akumulasi hal-hal dan daya upaya yang sudah dilakukan. Ingatlah bahwa kerja keras saja tidak cukup.
  2. CLARITY (Kejernihan Pikiran) –> Tetap jelas terhadap apa yang akan dicapai, apa tujuan awal, yang mendasari semua daya upaya yang kita lakukan
  3. STAMINA (Daya Tahan Mental untuk terus berjuang mengupgrade diri dan berjalan jauh) –> Ketahanan kita selama proses tersebut sampai pada akhirnya tercapai tujuan kita

Fokus mengembangkan 3 hal ini. Tidak usah pusingkan dulu hal yang lain. Well, I think this is absolutely works in every aspect in life. Sampai jumpa di post selanjutnya. May All Beings Be Happy.

Goals - Free of Charge Creative Commons Chalkboard image

Your DECISION,
Not Your CONDITION,
Will Detemine YOUR DESTINY

-Tony Robbins

Copyright © 2022 - Wilsen

UP ↑